Mengenal Aqidah Syi’ah

Kajian Rutin Jum’at Pagi 20 Februari 2015 M / 01 Jumada Al-Awwal 1436 H. Majelis Ta’lim Al-Qowwam Badiah – Riyadh .Pada kajian ini khusus membahas ajaran syi’ah yang mana sedang hangat-hangatnya bergejolak di seluruh belahan dunia termasuk di negara kita indonesia, yang di sampaikan oleh Ustadz.Nurhasan Asy’ari,Lc.  Salah satu pokok ajaran syi’ah di antaranya yaitu Syiah berkata: wajib bertaqiyah, yaitu menampakan suatu sikap yang berbeda dengna hakikat yang disembunyikan. Adapula yang mendefinisikan taqiyyah dengan anda berkata atau berbuat yang tidak anda yakini demi menghindari bahaya yang mengancam jiwa dan menjaga kehormatan diri. Lihat: kitab asy-Syiah fi al-Mizan, oleh Muhammad Jawwad Mughniyah  hal. 48.(mereka beranggapan ini mendapatkan pahala,padahal bertentangan dengan hadist Niat).Semoga para jama’ah yang di hadiri oleh para TKI dan TKW bisa membuka mata dan pikiran dan bisa membedakan yang mana ajaran islam yang haq yaitu Ahlusunnah waljama’ah yang di sampaikan oleh nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alahiwassalam,akhirnya mari kita berlindung dan berdo’a pada Alloh semoga kita di tetapkan untuk istiqomah memegang teguh ajaran islam sampai akhir hayat kita.

Dipublikasi di Video | Tag , | Meninggalkan komentar

CITA-CITA MENGGAPAI CINTA

kunci

Miliki dua kunci pembuka cinta Ilahi; ketakwaan dan keindahan akhlak.

Miliki dua kunci pembuka cinta manusia: banyak memberi manfaat dan menebarkan kebaikan.

Miliki dua kunci pembuka cinta tetanggamu: keceriaan wajah dan memuliakan mereka.

Miliki dua kunci pembuka cinta sahabatmu; kenang kebaikannya dan lupakan kekhilafannya.

Miliki dua kunci pembuka cinta murid-muridmu; berupaya maksimal dalam menularkan ilmu dan jangan menjaga jarak dengan mereka.

Miliki dua pembuka cinta guru-gurumu; cepat menangkap transfer ilmu yang mereka sampaikan dan tulus dalam menghormati dan memuliakan mereka

Miliki dua kunci pembuka cinta keluargamu; lemah lembut saat berbicara dengan mereka dan memahami Bahasa tubuh mereka.

Miliki dua kunci pembuka cinta managermu di tempat kerja; tulus dalam menta’ati arahan-arahannya dan professional dalam bekerja.

Miliki dua kunci cinta Allah dan manusia seluruhnya; mengukir kebaikan dan tidak mengusik kebahagiaan mereka.
(Mustafa as-Siba’i, hakadza allamatni al-hayat).

Saudaraku,
Salah satu inspirasi kita dalam mengembangkan potensi kebaikan dalam diri kita adalah cinta. Ia adalah energi yang akan melontarkan kita ke puncak prestasi. Ia menjadi semacam pelita yang akan menerangi perjalanan hidup kita hingga sampai ke tujuan tertinggi. Ia adalah nafas kehidupan kita.

Adakah kita mampu tersenyum lepas tanpa pernah merasakan cinta orang-orang terkasih?. Tanpa cinta, kita rasakan langit-langit hati kita dipayungi awan mendung yang berarak. Keresahan jiwa dan kegalauan hati tercipta. Hidup kita pun seperti dibayang-bayangi kehampaan dan kegagalan.

Selaku insan beriman, tentu kita bukan saja mendamba cinta orang-orang dekat; keluarga, tetangga, sahabat, guru dan peserta didik kita serta orang-orang yang bersama kita di tempat kerja dan di mana saja. Terlebih cinta Yang Maha Esa, adalah cinta yang semakin memberi warna bagi cinta-cinta yang lainnya.

Saudaraku,
Dicintai Allah dan manusia di sekitar kita, bukanlah pekerjaan mudah dan tidak pula usaha yang ringan kita lakukan. Ia memerlukan peluh dan darah perjuangan untuk meraihnya. Ia menginginkan mahar berharga yang kita berikan. Harus ada keistiqamahan dalam memeliharanya.

Mustafa as-Siba’i pernah berbagi pengalamannya yang sangat berharga, jika kita ingin menggapai cinta yang di Atas dan yang di bawah.

• Takwa dan akhlak terpuji, merupakan kunci meraih cinta Allah Ta’ala.
Yang parameternya terukur dengan menjadi ruhban al-lail (ahli ibadah di malam hari dan fursan al-nahar (penunggang kuda yang gagah, pejuang di siang hari). Tanpa menghidupkan malam dengan tahajjud di malam hari, mustahil ketakwaan dapat kita raih. Karena ketulusan kita dalam beribadah kepada-Nya mewujud dalam shalat malam.

Akhlak terpuji, tidak mungkin diraih dengan senda gurau dan bermain-main. Tapi ia tergapai dengan perjuangan berat dan usaha yang panjang. Dan itu disimbolkan dengan penunggang kuda di siang hari.

• Kunci meraih cinta tetangga-tetangga kita adalah selalu menampilkan keserian wajah dan memuliakan mereka.
Siapa di antara kita yang tidak mengharapkan penghargaan, penghormatan, apresiasi dan pemuliaan dari orang lain. Terlebih jika semua itu dibungkus dengan seulas senyum dan kejernihan wajah serta ketulusan sikap.

Jika hal itu dapat kita lihat dari tetang-teangga di sekitar kita, itu artinya kita telah memiliki tempat yang luas di dalam hati mereka. Sebaliknya, jika mereka bertemu kita dengan wajah yang kering, senyuman sirna, kekakuan dalam sikap, berarti kita belum menemukan kehangatan cinta dari mereka.

• Melupakan kesalahan dan mengenang kebaikan sahabat, merupakan kunci meraih cinta mereka.
Betapa seringnya dalam hidup, kita mengingat-ingat kesalahan sahabat terhadap kita walaupun ia lakukan tanpa ada unsur kesengajaan dan sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Kekhilafannya terus kita ungkit-ungkit. Namun kita sangat sulit mengenang kebaikan dan kebahagiaan yang pernah ia hadirkan dalam hidup kita.

Bila ini yang selalu kita lakukan dalam hidup, maka kita tak akan pernah dicintai sahabat-sahabat kita. Dan bahkan kita tak akan pernah mendapatkan sahabat sejati dalam hidup kita.

• Dicintai peserta didik, merupakan keserian tersendiri dalam hidup kita sebagai pendidik. Namun hal itu hanya menjadi fatamorgana belaka, jika kita asal-asalan dalam menularkan ilmu yang kita miliki, hanya sekadar menggugurkan kewajiban dan bersikap kasar terhadap mereka.kunci

Pendidik yang berkesan di hati murid-muridnya adalah pendidik yang selalu disebut kebaikannya oleh murid-muridnya semasa hidup dan bahkan mungkin sepeninggalnya.

Ibrahim al-Harbi pernah bertutur perihal gurunya Imam Ahmad bin Hanbal, “Aku pernah menemani Imam Ahmad selama dua puluh tahun, siang dan malam, musim dingin dan musim panas, dalam perjalanan atau mukim, dan dalam rentang waktu tersebut aku melihat amal shalihnya selalu bertambah dan tak pernah berkurang dari hari-hari sebelumnya.”

Saudaraku,
• Jika kita ingin selalu dicintai guru-guru kita, dosen, guru besar, ustadz dan orang-orang yang berjasa dalam hidup kita, maka menajamkan intelektual, mudah menyerap ilmu yang mereka tularkan, menghormati dan memuliakannya menjadi harga mati untuk kita lakukan.

Santun dan menghormati mereka, tidak harus dengan membawa kambing guling setiap kali kita berkunjung ke rumah mereka. Tidak pula dengan membungkukkan kepala dan punggung kita. Atau dengan mencium kaki mereka, cium tangan atau berebut bekas kopi dan teh mereka.

Cium tangan merupakan warna penghormatan terhadap mereka. Merendahkan suara saat berbicara dengan mereka juga merupakan bentuk memuliakan mereka. Dan yang terpenting adalah menjaga pesan-pesannya. Mendo’akan mereka, tidak menceritakan kelemahan dan kekurangan-kekurangannya kepada orang lain, menjaga nama baiknya dan seterusnya.

Saudaraku,
Jika kita ingin mengetahui sejauh mana kedekatan kita dengan istri dan anak-anak kita, seberapa dalam cinta mereka terhadap kita, seberapa bahagia mereka mengarungi samudera hidup dalam bahtera yang kita nahkodai. Kita bisa bertanya kepada orang-orang dekatnya. Bagaimana istri dan anak-anak kita bercerita tentang kita kepada sahabat karibnya.

Namun, jika kita berinteraksi dengan lemah lembut terhadap mereka. Tenang dalam bertegur sapa. Mampu tersenyum dalam memendam amarah. Bijak dalam mendidik. Memahami Bahasa tubuh dan meraba keinginan mereka. Insyaallah baiti jannati rumahku adalah surgaku dapat terwujud di alam realita kehidupan rumah tangga kita.

Saudaraku,
Dipercayai bos dan atasan kita serta rekan-rekan seperjuangan di tempat kerja, merupakan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Hal itu bisa terwujud, jika kita tulus dalam bekerja. Mampu meraba apa yang dimaui atasan kita. Professional dalam menjalankan tugas dan berkarya. Tuntas dalam menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepada kita. Ikhlas dalam mengembangkan karya. Disiplin terhadap waktu. Dan yang senada dengan itu.

Jika demikian, bukan hanya akan dicintai manager dan para karyawan, tetapi kita justru dicintai oleh Atasannya atasan kita yakni Allah ta’ala. ” “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang apabila melakukan pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (tekun, rapi dan teliti).” (HR. Baihaqi).

Saudaraku,
Jika kita ingin dicintai oleh semua makhluk ciptaan-Nya. Bahkan oleh Penciptanya, syarat yang harus kita penuhi adalah mentradisikan kebaikan di mana saja kaki kita berpijak dan tidak mengusik ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

Sebaliknya, jika kita di mana-mana dikenal dengan sosok yang memiliki kepribadian negative, akhlak yang tercela, mengganggu kebeningan hidup orang lain, maka kita akan dibenci manusia dan Tuhan pencipta kita.

Saudaraku,
Bagaimana kabar cinta kita hari ini? Sudahkah kita dicintai? Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 18 Februari 2015
Abu Ja’far Fir’adi

Dipublikasi di Kajian Islam | Tag | Meninggalkan komentar

EFEK DAN PENGARUH AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id

Amarah memiliki pengaruh-pengaruh yang sangat membahayakan dan kesudahan yang menghancurkan bagi pengemban dakwah, juga bagi kegiatan amal Islami, dan berikut ini adalah sebagian dari efek dan akibat tersebut, di antaranya:

Bagi Para Pengemban Dakwah
Efek amarah terhadap pengemban dakwah adalah:
1. Membahayakan tubuh.
Yang demikian itu bahwasanya amarah timbul dari darah yang naik dalam jantung, lalu terpancar dengan cepat ke seluruh badan sehingga nampak pada wajah dan mata yang memerah. Jika hal itu terus terulang akan menimbulkan tekanan darah pada sebagian besar kondisinya, dan mungkin saja terjadi pengerasan pembuluh darah, lalu ia menjadi lumpuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita darinya. Demikianlah akhir amarah bagi tubuh yang membawa kepada keburukan.

2. Kurang Agama.
Amarah terkadang membawa pelakunya kepada ghibah (membicarakan aib orang lain), dan mungkin juga bisa sampai mencaci maki kehormatannya, merampas hartanya dan menumpahkan darahnya. Semua itu merupakan perbuatan dosa dan sebagai tanda kurangnya agama padanya.

3. Tidak Ada Kemampuan Untuk Mengendalikan Diri.
Pada saat marah, akal menjadi sesuatu yang tidak berfungsi seperti sesuatu yang terhalang dan tertutup. Dan jika akal telah terhalang atau tertutup, maka manusia akan menjadi tidak mampu mengendalikan dirinya, dan saat itu akan muncul darinya akibat yang tidak terpuji dan menyebabkan penyesalan, namun hal itu terjadisetelah kejadian tersebut.

Sulaiman bin Dawud berkata: “Hati-hatilah engkau dari banyak marah, karena sesungguhnya banyak marah membuat hati seorang yang pemurah itu akan diremehkan.”

Dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya dahulu ada seorang pendeta berada di tempat ibadahnya, lalu syaitan ingin menyesatkannya namun ia tidak mampu, kemudian ia datang kepada pendeta tersebut seraya memanggilnya, syaitan berkata padanya, “Bukalah.” Ia pun tidak menjawabnya. Lalu syaitan kembali berkata, “Bukalah, karena jika aku pergi, kau akan menyesal.” Namun ia tidak menoleh kepadanya. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Lalu syaitan pergi.” Maka pendeta tersebut berkata, “Tidakkah kau mendengar?” Ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku akhlak manusia yang dapat membantu syaitan menggoda mereka.” Ia berkata, “Marah, sesungguhnya apabila seseorang sedang marah, kami memainkannya seperti seorang anak yang memainkan sebuah bola.”

Sebagian orang berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, akal tidak akan tenang saat marah, seperti halnya ruh orang yang hidup tidak akan tenang dalam tungku yang meluap-luap, maka orang yang paling sedikit marah adalah orang yang paling berakal. Apabila marahnya demi dunia, maka menjadi sebuah kelicikan dan tipu daya, dan apabila marahnya demi akhirat, maka menjadi kemurahan hati dan pengetahuan, sesungguhnya dikatakan: ‘Amarah adalah musuh akal, dan amarah adalah bencana bagi akal.’”

4. Jatuh Kedalam Kehinaan.
Bahwasanya orang yang marah akan mendapatkan amarah terhadap apa yang ia tidak ketahui dan tidak ia sadari, hal ini akan menjatuhkannya ke dalam kehinaan.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang melakukan setiap perbuatan yang mengakibatkan (pelakunya) tergelincir ke dalam kehinaan, dengan sabdanya:

(( إِيَّاكَ وَكُلَّ مَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ ))

“Hati-hatilah engkau dari setiap apa yang dimintai alasannya.”[1]

Sebagian orang berkata: “Hati-hatilah dengan amarah, karena sesungguhnya dia akan membawamu kepada kehinaan.”

5. Siksa Yang Pedih.
Amarah itu banyak menyebabkan kesalahan dan juga menyebabkan terjatuhnya kita terhadap berbagai macam maksiat dan keburukan. Hal ini akan mengakibatkan siksa yang pedih di akhirat kelak atau di dunia dan di akhirat sekaligus. Mahabenar Allah ketika berfirman:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabb-nya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” [Al-Jinn/72: 17]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” [Thaaha/20: 124)

Benarlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, di mana ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau:

(( مَا يُنْقِذُنِيْ مِنْ غَضَبِ اللهِ ؟ قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ ))

“(Amalan) apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.”[2]

Terhadap Kegiatan Amal Islami
Adapun pengaruh amarah terhadap kegiatan amal Islami di antaranya:
1. Sedikit Mendapatkan Penolong Dan Pelindung.
Sesungguhnya jiwa itu membentuk orang yang berakal lagi tekun dan bijaksana dalam tindak tanduknya, menerima dan melihat masyarakat sekitarnya, menolong dan melindunginya dengan seluruh kemampuannya. Adapun orang yang ceroboh dan kacau dalam perilaku dan tindak tanduknya, maka sesungguhnya ia memeriksa dan menghindar darinya, hal itu apabila para pengemban dakwah kepada Allah adalah di antara mereka yang marah karena dirinya sendiri dan mengikuti setiap hasratnya, mengikuti setiap hal yang membangkitkan amarahnya tanpa perhitungan akan hasil dan akibat-akibatnya, lalu manusia tidak akan menerima dan tidak akan melindungi mereka, maka kegiatan amal Islami akan rugi dengan hal tersebut dari ketiadaan penolong dan pelindungnya.

2. Bercerai-Berai Dan Berkelompok-Kelompok.
Pengaruh kedua terhadap kegiatan amal Islami akibat amarah yaitu bercerai-berai dan berkelompok-kelompok. Hal itu karena amarah untuk kepentingan pribadi maksudnya bahwa amalnya ditujukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan setiap hal yang serupa, maka jangan diharapkan darinya timbul rasa saling cinta, atau saling menyatu, namun sebaliknya akan menjadi bercerai-berai dan berkelompok-kelompok.

3. Panjangnya Jalan Dan Banyaknya Beban.
Pengaruh terakhir dari amarah terhadap kegiatan amal Islami adalah panjangnya jalan dan banyaknya beban, ini adalah hal yang alami, karena sesungguhnya penolong dan pelindung yang sedikit bersamaan dengan menyebarnya sikap bercerai-berai dan berkelompok-kelompok akan berakhir dengan pasti pada panjangnya jalan dan banyaknya beban

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. Ash-Shahiihah (no. 354).
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (II/175), al-‘Iraqi berkata: “Isnadnya hasan sebagaimana terdapat dalam al-Mughni ‘an Hamlil Asfaari fil Asfaari.

Dipublikasi di Kajian Islam | Tag | Meninggalkan komentar

MENGOBATI AMARAH

Oleh
Khumais as-Sa‘id

Setelah kita mengetahui definisi amarah, pandangan Islam terhadapnya, sebab-sebab yang membawa kepadanya, efek dan pengaruhnya terhadap pengemban dakwah dan amal Islami, maka menjadi lebih mudah dan ringan untuk mencari cara pengobatannya, bahkan mendapatkan cara untuk mencegah amalan ini:

Cara dan jalan ini terangkum dalam hal-hal berikut ini:

1. Mengetahui pengaruhnya yang berbahaya dan akibat-akibatnya yang menghancurkan disebabkan oleh amarah, baik terhadap pengemban dakwah maupun terhadap amal Islami, baik duniawi maupun ukhrawi, karena sesungguhnya pengetahuan seperti itu berguna untuk menggerakkan jiwa dari dalam, sehingga ia sedang menuju pengobatan bahkan sampai tindakan protektif dari penyakit ini.

2. Mengobati diri dari perdebatan dan perselisihan, demikian juga dari canda yang bathil. Sesungguhnya pengobatan dari keduanya juga akan menghilangkan jenis-jenisnya pada tingkatan yang penting sekali yang berkaitan dengan amarah tersebut. Hal ini masuk dalam bab menghilangkan penyakit mulai dari menghilangkan penyebab-penyebabnya.

3. Tidak memusuhi orang lain secara zhalim dan membabi buta, karena sesungguhnya permusuhan semacam itu akan membawa kepada penolakan, bagaimanapun biaya yang dikeluarkan dan tindakan penjagaannya, ada beribu-ribu jalan untuk mengobati kesalahan dan yang terakhir adalah permusuhan. Hal ini masuk ke dalam bab akhir dari pengobatan adalah al-kay (pengobatan dengan besi panas).

4. Membebaskan diri dari kesombongan dan takabbur di muka bumi dengan tanpa memiliki hak, bersamaan dengan itu menghiasi diri dengan sifat kebalikannya, yaitu tawadhu’, karena kondisi seperti itu akan membawa orang-orang yang suka marah ketika melihat mereka -telah sembuh dari penyakit mereka- untuk melepaskan diri darinya bahkan mereka harus menjaga diri darinya.

5. Bangkitnya umat -pemerintah maupun rakyatnya- untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap mereka yang suka marah, sekali-kali dengan nasihat, sekali-kali dengan pengingkaran, sekali-kali dengan mengancam, sekali-kali dengan pemberian ganjaran, sekali-kali dengan pengasingan dan pemutusan hubungan dan seterusnya, karena pelaksanaan terhadap kewajiban seperti ini sangat berguna dalam melepaskan diri, bahkan dalam penjagaan diri dari penyakit ini.

6. Menempatkan manusia sesuai dengan derajatnya, memenuhi hak-hak mereka seperti penghormatan dan penghargaan, menghindari pemberian sifat bagi mereka dengan sifat yang tidak pantas atau yang tidak layak, karena hal ini akan membawa kepada melepaskan diri, bahkan tindakan penjagaan dari penyakit ini.

7. Tidak membangkitkan permusuhan dan dendam yang telah lama, karena hal itu akan menghilangkan, bahkan menjaga ketergelinciran kepada penyakit ini.

8. Merubah kondisi orang yang sedang marah dengan menyuruhnya berwudhu’ atau mandi, menyuruhnya duduk bila ia sedang berdiri, menempelkan pipi dan wajahnya pada tanah (berbaring) apabila ia sedang duduk, memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdo’a, bertaubat, beristighfar, memuji Allah Tabaaraka wa Ta’ala, atau menyuruhnya berjalan bila ia sedang diam, dan seterusnya hingga emosinya mereda dan kembali kepada akal sehat dan kesadarannya.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk kepada kita tentang pengobatan ini ketika Sulaiman bin Shard berkata:

(( اِسْتَبَّ رَجُـلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُـوْسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدْ اِحْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنِّي َلأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ! لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ )) فَقَالُوا لِلرَّجُلِ: أَلاَّ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ ))

“Ada dua orang yang saling mencaci di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kami tengah duduk-duduk di sekeliling beliau, salah seorang dari keduanya mencaci yang lainnya seraya marah-marah dengan wajah yang merah, lalu Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, apabila ia mengucapkannya maka apa yang didapatkannya (marah) itu akan hilang, yaitu apabila ia mengucapkan, ‘أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.” Mereka berkata kepada orang tersebut, ‘Apakah kau tidak mendengar perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya aku bukan orang yang gila.”[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang panjang;

(( …أَلاَ وَإِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، أَمَا رَأَيْتُمْ إِلَى حُمْرَةِ عَيْنَيْهِ، وَانْتِفَاخِ أَوْدَاجِهِ، فَمَنْ أَحَسَّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَلْصَقْ بِاْلأَرْضِ ))

“…Ketahuilah, sesungguhnya amarah adalah bara api dalam hati seorang anak Adam, apakah kalian tidak melihat akan merahnya kedua matanya dan membengkaknya urat-uratnya? Maka barangsiapa yang merasakan hal itu, menempellah ke tanah (berbaringlah).”[2]

Dari Abu Harb bin Abil Aswad, dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُـمْ وَهُوَ قَائِـمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ.

“Apabila seseorang di antara kalian marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah hingga amarah itu hilang, jika tidak hilang maka berbaringlah.”[3]

9. Mengingatkan orang yang marah dengan kondisinya saat dia marah, karena kondisinya saat itu seperti orang gila atau hewan buas yang sedang menggeram, dan sesungguhnya hal semacam ini tidak pantas bagi seorang manusia yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk yang paling sempurna, dan memuliakannya dari seluruh makhluk di alam semesta ini dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Al-Israa’/17: 70]

Dan juga firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [At-Tiin/95: 4]

Semoga dengan mengingatkannya akan hal ini berguna dalam mengobati bahkan dalam menjaga diri dari amarah.

10. Menolehkan pandangan terhadap pentingnya perjuangan jiwa melawan amarah, karena sesungguhnya perjuangan ini adalah sebagai tanda kekuatan dan keberanian yang sesungguhnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ))

“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”[4]

Sesungguhnya cara seperti ini sangat berguna dalam mengobati, bahkan menjaga diri dari penyakit tersebut.

11. Menjelaskan ganjaran yang akan didapat oleh seorang muslim ketika ia berjuang melawan nafsu dan menahan amarahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [Asy-Syuuraa/42: 37]

Dan juga firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ﴿١٣٣﴾الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali ‘Imran/3: 133-134]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ كَتَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، يُزَوِّجُهُ مِنْهَا مَا شَاءَ ))

“Barangsiapa menahan amarah sedang ia mampu melaksanakannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memanggilnya di hadapan makhluknya hingga membuatnya memilih bidadari mana saja yang dikehendakinya untuk dinikahinya.”[5]

Sesungguhnya barangsiapa yang melihat cahaya ganjarannya, maka beban dan kesulitan suatu kewajiban terasa mudah (ringan).

12. Selalu hidup bersama Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad, karena sesungguhnya hal itu akan menerangi jalan dan mendidik kemampuan ketakwaan, keduanya adalah yang paling baik dalam melepaskan diri dari amarah, bahkan dalam tindakan protektif darinya.

13. Memperhatikan sejarah orang-orang yang dapat menahan amarahnya dan menghiasi dirinya dengan kemurahan hati dan pemaaf, seperti al-Ahnaf bin Qais, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, as-Syafi’i, dan selain mereka. Karena perhatian ini akan membawa kepada sikap meneladani dan mengikuti, atau paling tidak meniru dan menyerupai.

14. Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyembuhkan hati-hati yang di dalamnya terdapat sifat amarah, dan agar menggantinya dengan keridhaan, rahmat dan kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena do’a adalah anak panah yang jitu yang hampir saja tidak pernah salah sasaran, bahkan do’a adalah benar-benar ibadah.[6]

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]
_______
Footnote
[1]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Adab, bab al-Hadzru minal Ghadhab (Fat-hul Baari X/635, no. 6115).
[2]. Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, bab Maa Akhbaran Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ash-haabahu bimaa Huwa Kaa-ainun ilaa Yaumil Qiyaamah (no. 16, 22), seraya berkata: “Hadits ini hasan,” Tuhfatul Ahwadzi (VI/358).
[3]. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab al-Adab, bab Maa Yuqaalu ‘indal Ghadhab (no. 4782), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dengan nomor yang sama, penerbit Baitul Afkar ad-Dauliyyah.
[4]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab Shifatun Nabiy Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Fat-hul Baari VI/702, no. 3560).
[5]. Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3518) dan at-Targhiib (III/279).
[6]. ‘Aafaatun ‘alath Thariiq (II/243-267), dengan sedikit perubahan.

Dipublikasi di Kajian Islam | Tag | Meninggalkan komentar

Kajian Kitab Bulughul Maram Bab Shalat Berjama’ah dan syarat menjadi Imam

Kajian Rutin Jum’at Pagi 13 Februari 2015 M / 24 Rabi Al-Akhir 1436 H. Majelis Ta’lim Al-Qowwam Badiah Riyadh,pada pertemuan ini mengakhiri bab shalat berjama’ah dan imam yaitu pada hadits ke 326 sampai 340 pada kitab bulughul marab yang di sampaikan oleh:Ustadz.Nurhasan Asy’ari,Lc.Di harapakan kepada jama’ah yang di hadiri oleh para TKI dan TKW supaya bisa memahami dan mengamalkannya hadist-hadist tersebut begitu pentingnya shalat berjama’ah di masjid dan di harapkan kepada ikhwan yang sudah menikah dan belum menikah supaya mempersiapkan diri menjadi imam shalat di keluarganya dan di kampungnya masing-masing. Semoga Allah Azza wa zalla memberikan hidayah taufiq kepada kita semua sehingga mampu melaksanakan ibadah kita berdasarkan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

Hadits Ke-326

HADITS KE-326

 

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ سَلَمَةَ قَالَ: قَالَ أَبِي: ( جِئْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَقًّا. قَالَ: فَإِذَا حَضَرَتْ اَلصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ, وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا, قَالَ: فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي, فَقَدَّمُونِي, وَأَنَا اِبْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيّ ُ

Amar Ibnu Salamah berkata: Ayahku berkata: Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Beliau bersabda: “Bila waktu sholat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu beradzan dan hendaknya orang yang paling banyak menghapal Qur’an di antara kamu menjadi imam.” Amar berkata: Lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghapal Qur’an melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i.

Hadits Ke-327

HADITS KE-327

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَؤُمُّ اَلْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اَللَّهِ, فَإِنْ كَانُوا فِي اَلْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ, فَإِنْ كَانُوا فِي اَلسُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً, فَإِنْ كَانُوا فِي اَلْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا -وَفِي رِوَايَةٍ: سِنًّا- وَلَا يَؤُمَّنَّ اَلرَّجُلُ اَلرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ, وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ”. )  رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang Sunnah di antara mereka. Jika dalam Sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat: “Yang paling tua.” “Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seidzinnya.” Riwayat Muslim.

Hadits Ke-328

HADITS KE-328

 

وَلِابْنِ مَاجَهْ: مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَلَا تَؤُمَّنَّ اِمْرَأَةٌ رَجُلًا, وَلَا أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا, وَلَا فَاجِرٌ مُؤْمِنًا )  وَإِسْنَادُهُ وَاه

Menurut riwayat Ibnu Majah dari hadits Jabir r.a: “Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimami orang laki-laki, orang Badui mengimami orang yang berhijrah, dan orang yang maksiat mengimami orang mu’min.” Sanadnya lemah.

Hadits Ke-329

HADITS KE-329

وَعَنْ أَنَسٍ, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( رُصُّوا صُفُوفَكُمْ, وَقَارِبُوا بَيْنَهَا, وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ. )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tertibkanlah barisan (shof)-mu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Hadits Ke-330

HADITS KE-330

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ صُفُوفِ اَلرِّجَالِ أَوَّلُهَا, وَشَرُّهَا آخِرُهَا, وَخَيْرُ صُفُوفِ اَلنِّسَاءِ آخِرُهَا, وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا )  رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya ialah yang terakhir. Dan sebaik-baik shof perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya ialah yang pertama.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Hadits Ke-331

HADITS KE-331

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ, فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ, فَأَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي, فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah sholat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.

Hadits Ke-332

HADITS KE-332

 

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Hadits Ke-333

HADITS KE-333

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ اِنْتَهَى إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى اَلصَّفِّ, فَقَالَ لَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: ( فَرَكَعَ دُونَ اَلصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى اَلصَّفِّ )

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau ruku’. Lalu ia ruku’ sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Semoga Allah menambah keutamaanmu dan jangan mengulanginya.” Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku’ di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.

Hadits Ke-334

HADITS KE-334

 

وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ ]اَلْجُهَنِيِّ] رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ اَلصَّفِّ وَحْدَهُ, فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ اَلصَّلَاةَ. )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

وَلَهُ عَنْ طَلْق ٍ ( لَا صَلَاةَ لِمُنْفَرِدٍ خَلْفَ اَلصَّفِّ ) وَزَادَ اَلطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ وَابِصَةَ: ( أَلَا دَخَلْتَ مَعَهُمْ أَوْ اِجْتَرَرْتَ رَجُلًا؟ )

Dari Wabishoh Ibnu Ma’bad Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihat seseorang sholat di belakang shaf sendirian. Maka beliau menyuruhnya agar mengulangi sholatnya. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Menurut riwayatnya dari Tholq Ibnu Ali r.a: “Tidak sempurna sholat seseorang yang sendirian di belakang shaf.” Thabrani menambahkan dalam hadits Wabishoh: “Mengapa engkau tidak masuk dalam shaf mereka atau engkau tarik seseorang?”

Hadits Ke-335

HADITS KE-335

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا سَمِعْتُمْ اَلْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى اَلصَّلَاةِ, وَعَلَيْكُمْ اَلسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ, وَلَا تُسْرِعُوا, فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا, وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau telah mendengar qomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam) kerjakan dan apa yang tertinggal darimu sempurnakan.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Hadits Ke-336

HADITS KE-336

 

وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ اَلرَّجُلِ مَعَ اَلرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ, وَصَلَاتُهُ مَعَ اَلرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ اَلرَّجُلِ, وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ تِعالى )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان

Dari Ubay Ibnu Ka’ab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat seorang bersama seorang lebih baik daripada sholatnya sendirian, sholat seorang bersama dua orang lebih baik daripada sholatnya bersama seorang, dan jika lebih banyak lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Hadits Ke-337

HADITS KE-337

وَعَنْ أُمِّ وَرَقَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Ummu Waraqah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk mengimami anggota keluarganya. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

Hadits Ke-338

HADITS KE-338

 

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِسْتَخْلَفَ اِبْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ, يَؤُمُّ اَلنَّاسَ, وَهُوَ أَعْمَى )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُد َ 

وَنَحْوُهُ لِابْنِ حِبَّانَ: عَنْ عَائِشَة َ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meminta Ibnu Ummu Maktum untuk menggantikan beliau mengimami orang-orang, padahal ia seorang buta. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.

Hadits serupa juga terdapat dalam riwayat Ibnu Hibban dari ‘Aisyah r.a.

Hadits Ke-339

HADITS KE-339

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( صَلُّوا عَلَى مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَصَلُّوا خَلْفَ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholatkanlah orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah dan sholatlah di belakang orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallaah.” Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.

Hadits Ke-340

HADITS KE-340

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ اَلصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ, فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اَلْإِمَامُ )  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

Dari Ali Ibnu Abu Tholib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu datang untuk melakukan sholat sedang imam berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia mengerjakan sebagaimana yang tengah dikerjakan oleh imam.” Riwayat Tirmidzi dengan sanad yang lemah

Dipublikasi di Video | Tag , | Meninggalkan komentar

KEBAHAGIAAN MANA YANG INGIN ANDA RAIH?

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sebagian orang berkata, ‘Hidup itu yang penting happy’. Dari situ kemudian mereka berbuat semaunya. Mereka tidak peduli dengan segala macam aturan. Mereka ingin hidup bahagia, tapi melakukan perbuatan maksiat yang membahayakan dirinya di akherat. Mereka tertipu dengan kebahagiaan sesaat yang mereka rasakan di dunia ini, sehingga mereka tetap berani dan tetap nekad melakukan perbuatan yang dilarang agama. Memang, hidup bahagia merupakan dambaan setiap makhluk. Namun banyak orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akherat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui [al-‘Ankabût/29: 64]

Ketika menjelaskan maksud ayat ini, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam rangka) memberitakan betapa dunia itu hina, akan hancur dan akan sirna (pada saat yang telah ditentukan). Dan dunia ini tidak kekal, dan sekedar mendatangkan kelalaian dan bersifat permainan. Dia berfirman, “dan sesungguhnya akherat itulah yang sebenarnya kehidupan”, maksudnya (akherat itu) adalah kehidupan yang kekal, yang haq, yang tidak akan binasa dan tidak sirna. Kehidupan akherat berlangsung terus-menerus selama-lamanya. Firman-Nya (yang artinya,) “kalau mereka mengetahui”, maksudnya, jika manusia tahu, maka sungguh mereka akan lebih mengutamakan sesuatu yang bersifat baqa’ (kekal) daripada yang fana (akan binasa).” [1]

Oleh karena itu, agar tidak salah langkah, tujuan dan prioritas dalam mengejar kebahagiaan yang kita inginkan, di sini akan kami sampaikan beberapa hal terkait kebahagiaan di dunia dan akherat.

1. BAHAGIA DI DUNIA, BAHAGIA DI AKHIRAT
Inilah puncak kebahagiaan. Inilah yang selalu dimohon oleh hamba-hamba Allâh Azza wa Jallayang shalih, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١﴾ أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya [al-Baqarah/2: 201-202]

Ini juga merupakan do’a dan permohonan Nabi Musa Alaihissallam dan kaumnya yang shalih, sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla beritakan dalam kitab-Nya :

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ

(Mereka juga berdo’a), “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada-Mu [al-A’râf/7: 156]

Derajat tertinggi ini akan diraih oleh orang-orang yang bertaqwa dan berbuat ihsan, sebagaimana kita ketahui bahwa ihsân adalah derajat agama yang tertinggi, berdasarkan kandungan hadits Jibrîl Alaihissallam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?” Mereka menjawab: “(Allâh telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat ihsân (sebaik-baiknya) di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akherat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa [an-Nahl/16: 30]

2. SENGSARA DI DUNIA, BAHAGIA DI AKHERAT
Ada lagi orang yang meraih kebahagiaan di akherat, walaupun di dunia mendapatkan berbagai macam musibah dan ujian, bahkan kesusahan dan kecelakaan. Jenis manusia ini diberitakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan ? Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh, wahai Rabbku”.

Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allâh, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. [HR. Muslim,no. 2807 dan lainnya]

3. BAHAGIA DI DUNIA, CELAKA DI AKHERAT
Hadits shahîh dari Sahabat Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu di atas juga menjelaskan adanya jenis manusia yang berbahagia –secara lahiriyah- di dunia, namun di akherat akan mengalami kesengsaraan yang sangat berat. Kita lihat bahwa kebanyakan tokoh masyarakat yang berharta dan berpangkat adalah penentang dakwah para rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ ﴿٣٤﴾ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿٣٥﴾قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui” [Saba’/34: 34-36]

Cobalah perhatikan, orang kafir di bawah ini, bagaimana dia bergembira dan berbahagia di dunia, namun di akherat dia mendapatkan penderitaan yang tidak akan tertahan. Allâh Azza wa Jallaberfirman :

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا ﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢﴾ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا ﴿١٣﴾ إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya. [al-Insyiqâq/84:10-15]

Lihatlah tokoh-tokoh kafir zaman dahulu dan sekarang. Lihatlah Fir’aun, Hâmân, Qorun, dan lainnya. Janganlah kita tidak silau dengan kebahagiaan mereka yang bersifat sementara, tidak terperangah dengan limpahan harta yang mereka miliki, karena tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka.

Oleh karena itu, jangan sampai seseorang bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia saja. Karena dunia itu bersifat sementara, akan hancur dan sangat hina di sisi Allâh Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jallamencela orang-orang yang berdo’a dan memohon kepada-Nya hanya untuk mendapatkan kebaikan dunia. Allâh Azza wa Jallaberfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akherat [al-Baqarah/2:200]

4. CELAKA DI DUNIA, CELAKA DI AKHIRAT
Jenis manusia terakhir, adalah orang yang celaka di dunia dan akherat. Nas`alullâh as-salâmah wal ‘âfiyah. Orang yang tidak memahami dan jauh dari ajaran Islam yang benar dan jauh dari kemudahan rezeki di dunia, hidup sengsara, namun anehnya ia memiliki cita-cita dan keinginan yang sangat buruk (seperti berbuat maksiat atau merusak bila memiliki kekayaan).

Sesungguhnya keempat jenis manusia ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau sebagai berikut:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh).

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama.

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Jadilah hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh).

• Hamba yang Allâh tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.[2]

Inilah berbagai jenis kebahagiaan yang ada, jangan sampai kita salah langkah dalam memilih dan menggapai hakekat kebahagiaan. Karena sesungguhnya orang yang berakal akan lebih mengutamakan akherat yang kekal abadi ketimbang kenikmatan duniawi yang fana. Hanya Allâh yang memberikan taufik. Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tafsir Ibnu Katsir, surat al-‘Ankabût/29:64
[2]. HR. At-Tirmidzi, no. 2325, Ahmad 4/230-231, no. 17570; Ibnu Mâjah no. 4228, dan lainnya, dari Dahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu anhu. Di shahîhkan Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah no. 3406

Dipublikasi di Kajian Islam | Tag | Meninggalkan komentar

MENJADI NAHKODA KELUARGA TERBAIK

 

» خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي «

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam berinteraksi dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Saudaraku,
Hadits di atas menjadi parameter kualitas suami sebagai nahkoda dalam memandu perjalanan bahtera keluarga. Apakah ia menjadi nahkoda keluarga yang baik atau sebaliknya, menjadi pemimpin keluarga yang buruk.

Dalam kitabnya ‘tuhfat al-ahwadzi’, syarh sunan Tirmidzi, al-Mubarakfuri mengomentari hadits di atas dengan ucapannya, “Karena kesempurnaan iman akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan akhlak dan mendorong berbuat baik kepada seluruh manusia. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, karena istri adalah tempat mencurahkan kasih sayang disebabkan kelembutan dan kelemahan fisiknya.”

Imam Syaukani menegaskan dalam karyanya ‘nail al-authar’, “Pada hadits ini terdapat penandasan bahwa suami yang paling pantas disifati dengan kebaikan adalah suami yang terbaik dalam mempergauli istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, memberi warna manfaat dan menghindarkannya dari segala ragam mudharat.

Jika seorang suami bersikap demikian, maka dia adalah orang yang terbaik, namun sebaliknya jika ia buruk dalam menampilkan sikap, maka dia telah terlempar dalam status suami yang buruk.

Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau saksikan seorang suami bila bertemu dengan istrinya maka ia menjadi orang yang buruk perangainya, pelit dalam memberi nafkah, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, royal dan hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang diukirnya.

Suami yang bersikap demikian, maka ia telah terhalang dari taufiq (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari perilaku tersebut.”

Saudaraku,
Sesak dada ini bahkan seperti terbakar ulu hati ini kala membaca surat kabar bahwa ada seorang suami yang berbuat aniaya atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Terlebih terhadap istri pendamping hidupnya. Yang selama ini telah membuktikan kesetiaannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas. Siang dan malam. Pagi dan petang. Suka dan duka. Ber-ada dan tiada. Dalam tawa dan air mata. Melewati musim yang berbeda lagi berwarna.

Pertanyaannya adalah siapa yang memilih dia menjadi pendamping hidup kita? Bukankah kita sendiri? Dan dengan penuh percaya diri, kita melafadz-kan ijab Kabul di depan wali dan saksi serta khalayak yang tak sepi

Salah dalam memahami keinginan pasangan, kurang merasakan apa yang dirasakan olehnya, kekhilafan kecil dan keseiramaan hati yang terkadang memudar, wajah istri yang selalu cemberut, sering memicu konflik dan kemelut dalam keluarga.

Ketika hal ini tidak dipahami oleh suami, sering menjadi penyebab keretakan dalam rumah tangga, sehingga kemarahan meledak, kata-kata kasar mengalir, perabot dapur kadang menjadi kambing hitam.

Para suami,
Kalau kita menyaksikan dengan mata kepala bagaimana sulitnya keadaan istri kita saat mengandung buah hati kita. Perjuangan antara hidup dan mati saat melahirkannya. Ribetnya menyusui dan tetek bengeknya. Dan seterusnya.

Cobalah sesekali kita melakukan pekerjaan rutin istri kita sehari-hari. Tentu waktu satu pekan sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan mengurus rumah tangga bukanlah pekerjaan sepele dan ringan. Memasak, mencuci pakaian, mengganti popok si kecil. Belum lagi kakaknya yang pipis di sana sini. Dan lain sebagainya, bukan pekerjaan ringan.

Saudaraku,
Oleh karena itu, bersyukurlah kita kepada Allah swt yang telah mengaruniakan kita istri pendamping hidup. Ia hadir untuk kita sayangi, dan bukan untuk disakiti. Ia telah mencurahkan kasih sayangnya kepada kita, kenapa kita membentaknya, memarahinya, menghancurkan barang-barang miliknya dan melukai perasaan serta menjadikan hatinya hancur berkeping-keping? Bagaimana tanggung jawab kita di hadapan-Nya nanti pada hari kiamat?

Buktikanlah, bahwa kita adalah nahkoda keluarga yang bijaksana. Kita adalah sosok suami dambaan istri dan anak-anak kita. Yang menegur dengan cinta. Menasihati dengan senyum. Dan bukan dengan amarah membara. Seolah-olah dia adalah musuh dalam selimut kita.

Renungkanlah perkataan Fudhail bin Iyadh, “Aku bisa merasakan bahwa diri ini berada dalam maksiat dari sikap istri dan kendaraan yang aku tumpangi.” (Min akhlaq al-Salaf, Ahmad Farid).

Nasihat senior tabi’in ini menyadarkan kita bahwa ada korelasi yang sangat erat antara kondisi keimanan dan keshalihan kita dengan sikap istri, anak-anak dan kendaraan milik kita.

Jika kita melihat istri kita tidak menghadirkan seular senyuman terindah dan tidak menyiapkan teh hangat ber-merek sari wangi cinta saat kita datang dari tempat kerja dengan membawa selaksa keletihan dan segumpal, sadarilah bahwa ada masalah dengan kepribadian kita. Ada error dalam laptop cinta kita. Ada debu-debu dosa dan kotoran maksiat dalam dinding hati kita.

Jika kita merasakan bahwa anak-anak berubah sikapnya. Tiada keceriaan saat bersua dengan kita. Tidak menuruti perintah dan keinginan kita. Membantah ucapan kita. Dan yang senada dengan itu. Ketahuilah bahwa kita sedang berada di zona yang berbahaya. Arena dosa dan maksiat. Tapi mungkin kita tidak menyadarinya.

Jika kita sering kesal dengan kendaraan milik kita. Berjalan lambat tak seperti keinginan kita. Mogok saat kita berkejaran dengan waktu. Sering keluar masuk tempat service. Sadarilah bahwa ada yang salah dalam kehidupan kita. Ada yang kurang pas dengan kepribadian kita. Perlu berbenah dan memperbaiki diri.

Saudaraku,
Dahulu Rasulullah s.a.w bisa berlomba lari dengan Aisyah dan istri-istri beliau yang lain. Jelas bukan untuk meraih piala dalam lomba tersebut. Tapi beliau ingin mengalirkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati istri-istri beliau. Demikian pula untuk merekatkan cinta dalam keluarga beliau.

Di masa kita sekarang, hampir-hampir kita tidak pernah lagi mendengar ada seorang suami berlomba lari dengan istrinya, termasuk kita. Yang ada pada saat ini ialah seorang istri yang lari terbirit-birit ketakutan karena dikejar suaminya yang sedang marah membara.

Terakhir saudaraku,
Renungkanlah perkataan Ahmad bin Harb, “Jika terhimpun pada diri seorang istri enam perkara, maka akan memantul keshalihannya secara sempurna; memelihara shalat lima waktu, menta’ati suaminya, perilakunya membuat Rabb-nya ridha terhadapnya, memelihara lisannya dari ghibah dan adu domba, zuhud terhadap kemewahan dunia dan sabar dalam menghadapi tribulasi hidup.”

Saudaraku,
Apakah kita telah menjelma menjadi sosok nahkoda keluarga yang terbaik? Tanyakanlah kepada istri dan anak-anak kita, karena mereka yang paling mengenal kita luar-dalam.

Mudah-mudahan kita telah memiliki sosok istri sebagaimana yang telah digambarkan oleh Ahmad bin Harb rahimahullah. Dan hanya kita yang mampu mengukurnya.

Ya Rabbana, jadikanlah istri dan anak-anak kami penyejuk mata hati kami. Dan jadikanlah kami imam bagi para suami yang muttaqin. Amien.

Metro, 11 Februari 2015
Fir’adi Abu Ja’far

Dipublikasi di Kajian Islam | Tag | Meninggalkan komentar